FBI Ungkap Kelompok Hacker Korut TraderTraitor di Balik Pembobolan Binance Rp103 Triliun

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) secara resmi mengaitkan perampokan aset virtual senilai lebih dari 6 miliar dolar AS dengan TraderTraitor. Kelompok peretas elite yang berafiliasi dengan Korea Utara ini juga dilacak menggunakan nama samaran lain, seperti Jade Sleet, Pressure Chollima, PUKCHONG, Slow Pisces, serta UNC4899.

Pihak FBI, bekerja sama erat dengan U.S. Secret Service (USSS) dan Internal Revenue Service Criminal Investigation (IRS-CI), melaporkan bahwa pelaku ancaman tersebut terpantau menukarkan sebagian besar aset curian mereka ke dalam bentuk Ethereum (ETH).

"Diperkirakan aset-aset ini selanjutnya akan dicuci lebih jauh dengan mengonversinya menggunakan layanan DeFi dan pertukaran instan saat mereka mempersiapkan tahapan pencucian uang lanjutan," terang FBI dalam pernyataan resminya.

Badan penegak hukum tersebut turut membagikan daftar alamat dompet kripto yang teridentifikasi sedang dimanfaatkan oleh para pelaku peretasan guna menyamarkan jejak aliran dana hasil kejahatan tersebut.

Perkembangan penting ini muncul bertepatan dengan pengumuman Binance bahwa mereka telah membuka kembali tahap pertama proses penarikan dana hari ini antara pukul 6 dan 9 pagi UTC, menyusul pembekuan sementara setelah insiden pembobolan terjadi.

"Sejak insiden berlangsung, seluruh tim kami segera memberlakukan serangkaian tindakan pencegahan untuk mengamankan ekosistem platform, melangsungkan audit keamanan ketat, dan memverifikasi kesiapan seluruh layanan yang terdampak," tulis Binance dalam keterangan tertulisnya.

"Tujuan kami adalah memulihkan mekanisme penarikan secara bertahap begitu penilaian keamanan dan pemeriksaan kesiapan selesai tuntas. Seluruh layanan deposit tetap beroperasi penuh tanpa terpengaruh oleh insiden ini sama sekali."

Jumlah hasil curian masif ini langsung melampaui rekor perampokan Bybit senilai 1,46 miliar dolar AS pada Februari 2025, menjadikannya kasus pencurian mata uang kripto terbesar sepanjang sejarah. Aliran dana tersebut dijarah dari lintas 11 jaringan blockchain, di mana 82 persen di antaranya terkonsentrasi pada ekosistem Ethereum dan Bitcoin.

"Peristiwa tunggal ini hampir melipatgandakan seluruh total aset kripto yang pernah dijarah oleh rezim tersebut," ungkap firma analisis forensik blockchain Elliptic. "Kelompok yang terhubung ke Korea Utara, secara formal Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK), diperkirakan telah menjarah lebih dari 6,5 miliar dolar AS aset kripto dalam beberapa tahun belakangan."

Dari total nilai fantastis 6,43 miliar dolar AS yang digasak oleh sindikat TraderTraitor, sekitar 2,85 miliar dolar AS berhasil dibekukan langsung pada jaringan on-chain berkat tindakan sigap Tether, Circle, Ripple, Arbitrum, dan Optimism.

TraderTraitor sendiri merupakan penamaan bagi entitas siber Korea Utara yang memiliki rekam jejak panjang dalam mendalangi kejahatan kripto terhadap industri Web3.0 melalui jebakan pengunduhan aplikasi berbahaya. Kelompok spionase ini terdeteksi aktif melancarkan operasinya setidaknya semenjak tahun 2020 silam.

Dalam rentang beberapa tahun terakhir, kelompok peretas ini telah dikaitkan dengan sejumlah aksi perampokan mata uang kripto besar lainnya yang menghantam DMM Bitcoin, Bybit, KelpDAO, hingga Bitget.

Laporan investigasi mendalam dari SentinelOne, Zscaler ThreatLabz, dan Microsoft membeberkan bahwa TraderTraitor terus memutakhirkan metode serangan mereka. Mereka memanfaatkan trojanized Terraform providers sebagai sarana penyebaran malware serta mendirikan perusahaan kedok palsu untuk melancarkan serangan rekrutmen kerja terhadap sasaran di bidang keamanan siber, kecerdasan buatan, blockchain, dan agensi perekrutan bakat.

Penyedia Terraform yang terkontaminasi tersebut dipakai untuk meluncurkan Bash loader khusus yang bertugas mengunduh malware sesuai sistem operasi korban. Salah satunya adalah implant lintas platform bernama FLATROOF, yang menguras data sensitif target memakai information stealer berbasis Python sebelum menanamkan backdoor ROOFDECK demi kendali jarak jauh penuh.

Rangkaian aktivitas ini kembali menunjukkan bagaimana sindikat ancaman siber Korea Utara tiada henti menyalahgunakan alur kerja pengembang terpercaya via trojanized Terraform demi mengirimkan malware lintas sistem operasi macOS, Linux, dan Windows secara persisten.

Modus operandi TraderTraitor, serupa dengan kampanye besutan Korea Utara lainnya seperti Operation Dream Job milik Lazarus Group dan Contagious Interview besutan Famous Chollima, mengandalkan umpan lamaran kerja demi meyakinkan target menjalankan kode berbahaya. Tahap manipulasi psikologis ini kini diperkuat oleh teknologi artificial intelligence (AI) demi memoles narasi persuasif, memalsukan identitas, serta mengelabui deteksi sistem keamanan.

"Pelaku merancang domain khusus, profil media sosial palsu, dan pengetahuan industri mendalam untuk menyamar sebagai staf rekruter perusahaan intelijen blockchain berbasis AI, menggunakan dalih peluang lowongan insinyur perangkat lunak demi memulai kontak serta mengatur sesi wawancara dengan korban yang merespons," ungkap Microsoft.

"Dalam kurun waktu yang singkat tersebut, Jade Sleet melancarkan pola rekrutmen serupa melalui dua perusahaan cangkang tambahan, didukung oleh infrastruktur penunjang serupa dan pemahaman domain yang sepadan."